Pentingnya Mengenal Diri Dalam Public Speaking

Gambar Ilustrasi | Free for commercial use


Mengenali diri adalah langkah awal yang sangat penting untuk menjadi seorang pembicara yang baik. Kita harus memahami kualitas diri, lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya.

Seorang pembicara yang hebat bukanlah dia yang dianugerahi kesempurnaan atau kepandaian berbicara sejak lahir, malainkan dia yang mampu mengenali diri sendiri, mengidentifikasi kekurangan dan kelebihannya, untuk kemudian memanfaatkan semua kelebihan dan kekurangan itu untuk tampil prima.

Dengan mengetahui kelebihan, kita akan punya keyakinan diri yang mant pbahwa kita bisa menjadi seorang pembicara hebat. Dan dengan mengtahui kelemahan, kita jadi tahu apa yang harus diperbaiki untuk mengetahui kualitas yang diperlukan. Dan apabila kelemahan kita bersifat permanen alias tidak dapat diperbaiki, kita jadi tahu bagaimana cara terbaik untuk mengatasi atau meng-couter-nya.

Sebagi contoh adalah Franklin D.Roosevelt. Dulu dia senator ternama di New York yang merupakan kandidat Presiden, namun tiba-tiba terserang penyakit tifus dan polio hingga mengalami kelumpuhan. Lalu kandidat Presiden lain mencibirnya, namun Roosevelt “memperbaiki” kelemahannya itu dengan memperbaiki kekutan Public Speaking-nya, baik dalam segi pilihan kata maupun antusiasme, hingga akhirnya ia berhasil menjadi Presiden di Negaranya yang dikenang sampai saat ini. Lalu bagaimana dengan Anda, sudah mengenali kelebihan dan kekurangan Anda?.


Saya bantu Anda untuk mengenali diri Anda dalam Training For Motivator, Coaching Selama 2 hari bersama Saya dan Tim pada awal tahun 2017 nanti di Kota Anda.

Informasi dan pendaftaran hubungi nomor kontak kami di halaman awal. (trainingdsi.com) Sudah ada peserta dari 7 Kota Besar yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan ini. Daftar di bulan Desember diskonnya Gede!! Daftar Sekarang Juga!!!


Salam BBM!
-Rika Mayasari-

Seminar; Menguak Jalur Rahasia Meraih Sukses Di Usia Muda


Apakah Anda ingin SUKSES diusia MUDA? 
Anda ingin berkarya dan berprestasi dalam hidup?
KAYA dan berlimpah BERKAH dalam menjalaninya?
Apakah Anda punya impian dan cita-cita yang sudah lama dipendam namun tidak kunjung terwujud?

Merasa sulit dan punya berbagai hambatan dalam meraihnya?
atau Pernah berpikir usaha Anda sudah maksimal namun tidak kunjung membuahkan hasil? 
Namun tetap BERKOMITMEN untuk mewujudkannya? 
Bukan hanya sekedar BICARA tetapi penuh BUKTI nyata?
Hati-hati... bisa jadi konsep hidup Anda yang harus diperbaiki!!
Bisa jadi Jalan yang Anda tempuh kurang tepat!!

Ada Cara dan teknik melangkah sukses yang BELUM Anda temukan dan kuasai. Ingin menemukan jalur percepatan KESUKSESAN Anda?

SOLUSI BERLIANnya DIBONGKAR dalam SEMINAR INSPIRATIF Awal Tahun 2017 TERBESAR di PEKANBARU “MENGUAK JALUR RAHASIA MERAIH SUKSES DIUSIA MUDA” 

(Mendeteksi Jejak-Jejak Kesuksesan Gaya Anak Muda)

>MINGGU, 15 Januari 2017
Pukul 08.00-12.00 WIB
Di Hotel Pangeran Pekanbaru 

TERBUKA UMUM!!

Menghadirkan TRAINER yang EXPERT Menginspirasi, SUKSES, CERDAS, PENUH PRESTASI DAN KARYA ;

>RIKA MAYASARI 
(MOTIVATOR WANITA TERMUDA ASIA TENGGARA, PENULIS BUKU BEST SELLER, GREATPRENEUR, CEO DSI, OWNER ALZAHIRAH PRODUCTION)

Temukan TIPS PALING AMPUH MERAIH KESUKSESAN DIUSIA MUDA

Saatnya Anda BANGKIT dan menarik ENERGI dari dalam dan luar diri Anda.
Mengukir sejarah di altar kehidupan manusia!
Muda itu raih prestasi, bukan gengsi.
Perbanyak berkarya, bukan gaya.
Perbanyak ilmu, bukan jemu.
Harus tertantang, bukan ditendang.
Jadi pemenang, bukan pecundang.
Mesti aktif, bukan pasif.
Harus semangat bukan lambat.
Berpikir optimis bukan pesimis.


BERDIAM BUKAN SOLUSI
DAN BUKAN PULA PILIHAN ANAK MUDA
BERGERAKLAH!!!
DENGAN BERGERAK ANDA MENCIPTAKAN PERUBAHAN

>HTM : 
-Pelajar/Mahasiswa Rp 75.000
-Umum Rp 100.000 

(Coffee Break, Sertifikat, Block Note dan Souvenir) 
-VIP Rp 200.000

(Coffee Break, Sertifikat, Block Note, Souvenir, Buku Karya Pembicara dan Meet & Greet)
>Pembayaran Via Transfer ke BNI 014.4096.930 

a.n. Hafizhah Al-Mukarramah


>INFO & TICKETING : 
-085365681727 (Fiza)
-082381897038 (Yulia) 
-082384378783 (Yola)
-081277793777 (Firdaus)


PESERTA TERBATAS!!

Amankan Kursi Anda Sekarang Juga.....

Indahnya Hidup Tanpa Amarah


     
Dalam suatu kehidupan banyak sekali yang dirasakan oleh manusia, baik itu hal yang positif maupun yang negative, baik itu yang membuat senang maupun tidak. Hidup ini memang beragam sekali warna yang dirasakan oleh manusia namun justru inilah yang membuat hidup itu indah karena manusia hidup perlu perbedaan agar saling mengenal satu sama lain. Sebagaimana Allaah berfirman dalam surat Al-Hujurat Ayat 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Marah adalah emosi dasar yang dialami oleh semua manusia. Biasanya disebabkan oleh perasaan tidak senang yang terjadi karena merasa tersakiti, tidak dihargai, berbeda pandangan, atau ketika menghadapi halangan untuk mencapai tujuan. Hampir setiap orang pasti sudah pernah mengalami keadaan ini namun tidak semua orang tahu akan dampak dari masalah yang satu ini. Namun tahukah anda jika marah itu memiliki dampak yang sangat berbahaya. Mau tahu?

Jika ada yang sampai saat ini sudah shalat berjama’ah tapi pulang ke rumah masih marah-marah? Ini bukti bahwa anda tidak mengenal Tuhan. Jika ada yang sampai saat ini mendidik anak, siswa, mahasiswa dengan marah? Ini bukti bahwa anda kurang ilmu. Jika ada yang sampai saat ini yang menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan dll pulang ke rumah masih saja marah-marah? Ini bukti bahwa anda orang gila. Loh ko bisa gitu? Bukankah marah itu boleh asalkan pada tempatnya? Siapa yang masih mempunyai pikiran yang seperti ini? Ini bukti bahwa anda tidak mengenal Tuhan. Mau bukti?
Apakah pernah di dalam Al-Qur’an Allaah berfirman “wahai hambaku sesungguhnya marah itu boleh asalkan pada tempatnya”. Apakah pernah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda wahai umatku sesungguhnya marah itu boleh asalkan pada tempatnya.” Apakah ada dalil ini di dalam Al-Qur’an & As-Sunnah? Tidak ada. Lalu siapa yang mengajari kita bahwa marah itu boleh asal pada tempatnya? Tapi bukankah Rasulullaah pernah marah sampai wajahnya beliau memerah? Apakah setiap kali jika wajahnya memerah itu berarti marah? Belum tentu. Pada waktu itu beliau menahan amarah bukan sedang marah. Marah dengan menahan amarah sama atau berbeda? Tentu berbeda. Jika marah maka neraka tempatnya tetapi jika menahan amarah maka surgalah tempatnya karena puncak dari menahan amarah adalah sabar.

Tapi saya tidak akan terima jika agama saya diinjak-injak? Iya paham, jika soal ini jangan Tanyaya lagi karena ini adalah suatu pembelaan. Lalu apa bedanya pembelaan dengan marah? Simaklah cerita singkat dari ‘Ali ibn Abi Thalib:

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan musuhnya. Jika ingin, mudah saja baginya mengayunkan pedang guna memenggal kepala lawannya. Namun tak ia lakukan itu. Mengetahui Ali tidak segera bertindak, musuh Allah tersebut justru meludahi wajah Ali. Sungguh ejekan yang menghinakan. Diperlakukan demikian, Ali naik pitam. Alih-alih menghabisi lawannya, Ali justru menurunkan pedangnya. Ia urung memenggal. “Mengapa engkau tak jadi memenggal kepalaku?” tanya musuhnya heran. “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku membunuhmu karena marahku kepadamu.”

Orang yang melakukan pembelaan ketika agamanya diinjak-diinjak, jika dia melakukan pembelaan tersebut melakukan tindakan sewenang-wenang ini berasal dari hawa nafsu tapi jika ia masih bisa tenang dalam melakukan pembelaan tersebut masih bisa bersikap adil maka hal ini bukan marah tapi pembelaan yang didasari dengan keimanan kepada Allaah.

Ketahuilah karena sesungguhnya amarah itu berasal dari setan. Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan itu di ciptakan dari api, sedangkan api itu bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (H.R. Abu Dawud dari Ummu Athiyah)

Jika ada seorang ayah yang mendidik anaknya dengan marah maka ini bukti bahwa ayah tersebut kurang ilmu. Ko bisa? Begini penjelasannya. Ketika ada dua orang, seorang ayah mendidik anaknya dengan marah & yang satunya mendidikan anak dengan tidak marah dan masalah sama-sama terselesaikan. Bagaimana ini bisa berbeda?

Seorang ayah yang mendidik anaknya dengan marah ketika anaknya malas ia memarahinya maka ini bukti kurang ilmu. Tapi kan dengan memarahi anaknya berhasil membuat anaknya tidak malas lagi, anaknya sudah rajin sesuai dengan yang ia harapkan tapi ingatlah kemarahan ini akan tersimpan ke dalam ingatan anak sampai ia dewasa. Boleh jadi anaknya akan membenci ayahnya. Sedangkan tipe ayah yang kedua ketika anaknya malas, ia tahu harus melakukan apa. Jika anaknya nakal ia tahu harus bagaimana tentunya tanpa diikuti dengan amarah. Bagaimana caranya? Ketika sebelum menikah atau sedang menunggu kelahiran anaknya dia sibuk untuk mencari tahu ilmu bagaimana mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapi ketika memiliki anak atau ketika anaknya nakal ia konsultasikan ke ustadznya sehingga ia bisa menemui jalan keluar untuk mengatasi anak tanpa dengan amarah. Jadi, mau pilih yang mana?

Jika masih ada orang yang tahu akan dosa namun ia tetap melakukan perbuatan tersebut. Ini bukti bahwa orang itu gila. Sama dengan halnya ketika masih saja ada orang yang marah padahal ia tahu marah itu berasal dari setan tapi tetap saja melakukannya. Sebagaimana Rasul shallallaahu ‘alaih wa sallam bersabda “Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan itu di ciptakan dari api, sedangkan api itu bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (H.R. Abu Dawud dari Ummu Athiyah)


Betapa indah rasanya jika menjalankan hidup di dunia tanpa amarah. Mendidik anak tanpa arah, mendidik murid tanpa marah, menjalankan kehidupan dengan orang lain tanpa marah. Ketika sudah mengetahui hal-hal yang telah dijelaskan diatas apakah masih mau marah-marah?


Penulis: Abdul Aziz "Training Development DSI Yogyakarta"
ditulis di YogyakartaDalam suatu kehidupan banyak sekali yang dirasakan oleh manusia, baik itu hal yang positif maupun yang negative, baik itu yang membuat senang maupun tidak. Hidup ini memang beragam sekali warna yang dirasakan oleh manusia namun justru inilah yang membuat hidup itu indah karena manusia hidup perlu perbedaan agar saling mengenal satu sama lain. Sebagaimana Allaah berfirman dalam surat Al-Hujurat Ayat 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Marah adalah emosi dasar yang dialami oleh semua manusia. Biasanya disebabkan oleh perasaan tidak senang yang terjadi karena merasa tersakiti, tidak dihargai, berbeda pandangan, atau ketika menghadapi halangan untuk mencapai tujuan. Hampir setiap orang pasti sudah pernah mengalami keadaan ini namun tidak semua orang tahu akan dampak dari masalah yang satu ini. Namun tahukah anda jika marah itu memiliki dampak yang sangat berbahaya. Mau tahu?

Jika ada yang sampai saat ini sudah shalat berjama’ah tapi pulang ke rumah masih marah-marah? Ini bukti bahwa anda tidak mengenal Tuhan. Jika ada yang sampai saat ini mendidik anak, siswa, mahasiswa dengan marah? Ini bukti bahwa anda kurang ilmu. Jika ada yang sampai saat ini yang menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan dll pulang ke rumah masih saja marah-marah? Ini bukti bahwa anda orang gila. Loh ko bisa gitu? Bukankah marah itu boleh asalkan pada tempatnya? Siapa yang masih mempunyai pikiran yang seperti ini? Ini bukti bahwa anda tidak mengenal Tuhan. Mau bukti?
Apakah pernah di dalam Al-Qur’an Allaah berfirman “wahai hambaku sesungguhnya marah itu boleh asalkan pada tempatnya”. Apakah pernah Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda wahai umatku sesungguhnya marah itu boleh asalkan pada tempatnya.” Apakah ada dalil ini di dalam Al-Qur’an & As-Sunnah? Tidak ada. Lalu siapa yang mengajari kita bahwa marah itu boleh asal pada tempatnya? Tapi bukankah Rasulullaah pernah marah sampai wajahnya beliau memerah? Apakah setiap kali jika wajahnya memerah itu berarti marah? Belum tentu. Pada waktu itu beliau menahan amarah bukan sedang marah. Marah dengan menahan amarah sama atau berbeda? Tentu berbeda. Jika marah maka neraka tempatnya tetapi jika menahan amarah maka surgalah tempatnya karena puncak dari menahan amarah adalah sabar.

Tapi saya tidak akan terima jika agama saya diinjak-injak? Iya paham, jika soal ini jangan Tanyaya lagi karena ini adalah suatu pembelaan. Lalu apa bedanya pembelaan dengan marah? Simaklah cerita singkat dari ‘Ali ibn Abi Thalib:

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan musuhnya. Jika ingin, mudah saja baginya mengayunkan pedang guna memenggal kepala lawannya. Namun tak ia lakukan itu. Mengetahui Ali tidak segera bertindak, musuh Allah tersebut justru meludahi wajah Ali. Sungguh ejekan yang menghinakan. Diperlakukan demikian, Ali naik pitam. Alih-alih menghabisi lawannya, Ali justru menurunkan pedangnya. Ia urung memenggal. “Mengapa engkau tak jadi memenggal kepalaku?” tanya musuhnya heran. “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku membunuhmu karena marahku kepadamu.”

Orang yang melakukan pembelaan ketika agamanya diinjak-diinjak, jika dia melakukan pembelaan tersebut melakukan tindakan sewenang-wenang ini berasal dari hawa nafsu tapi jika ia masih bisa tenang dalam melakukan pembelaan tersebut masih bisa bersikap adil maka hal ini bukan marah tapi pembelaan yang didasari dengan keimanan kepada Allaah.

Ketahuilah karena sesungguhnya amarah itu berasal dari setan. Rasulullaah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan itu di ciptakan dari api, sedangkan api itu bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (H.R. Abu Dawud dari Ummu Athiyah)

Jika ada seorang ayah yang mendidik anaknya dengan marah maka ini bukti bahwa ayah tersebut kurang ilmu. Ko bisa? Begini penjelasannya. Ketika ada dua orang, seorang ayah mendidik anaknya dengan marah & yang satunya mendidikan anak dengan tidak marah dan masalah sama-sama terselesaikan. Bagaimana ini bisa berbeda?

Seorang ayah yang mendidik anaknya dengan marah ketika anaknya malas ia memarahinya maka ini bukti kurang ilmu. Tapi kan dengan memarahi anaknya berhasil membuat anaknya tidak malas lagi, anaknya sudah rajin sesuai dengan yang ia harapkan tapi ingatlah kemarahan ini akan tersimpan ke dalam ingatan anak sampai ia dewasa. Boleh jadi anaknya akan membenci ayahnya. Sedangkan tipe ayah yang kedua ketika anaknya malas, ia tahu harus melakukan apa. Jika anaknya nakal ia tahu harus bagaimana tentunya tanpa diikuti dengan amarah. Bagaimana caranya? Ketika sebelum menikah atau sedang menunggu kelahiran anaknya dia sibuk untuk mencari tahu ilmu bagaimana mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapi ketika memiliki anak atau ketika anaknya nakal ia konsultasikan ke ustadznya sehingga ia bisa menemui jalan keluar untuk mengatasi anak tanpa dengan amarah. Jadi, mau pilih yang mana?

Jika masih ada orang yang tahu akan dosa namun ia tetap melakukan perbuatan tersebut. Ini bukti bahwa orang itu gila. Sama dengan halnya ketika masih saja ada orang yang marah padahal ia tahu marah itu berasal dari setan tapi tetap saja melakukannya. Sebagaimana Rasul shallallaahu ‘alaih wa sallam bersabda “Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan itu di ciptakan dari api, sedangkan api itu bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila seseorang dari kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (H.R. Abu Dawud dari Ummu Athiyah)


Betapa indah rasanya jika menjalankan hidup di dunia tanpa amarah. Mendidik anak tanpa arah, mendidik murid tanpa marah, menjalankan kehidupan dengan orang lain tanpa marah. Ketika sudah mengetahui hal-hal yang telah dijelaskan diatas apakah masih mau marah-marah?


Penulis: Abdul Aziz "Training Development DSI Yogyakarta"
ditulis di Yogyakarta

Perjalanan Hijrah Owner Ronalee Resto: Ummu Zaiddan




Pengertian Hijrah

Pengertian hijrah secara bahasa berarti meninggalkan. Secara istilah yaitu meninggalkan atau berpindah dari negeri syirik menuju negeri muslim. Adapun pengertian secara syari’at adalah meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh الله kepada sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh الله. Jadi hijrah adalah seorang muslim yang dahulu melakukan perbuatan-perbuatan yang dibenci oleh الله atau maksiat kepada الله kemudian bertaubat dengan meninggalkan perbuatannya yang dahulu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai dan diridhoi oleh الله dengan berpindah dari negeri musyrik menuju negeri muslim atau berpindah dari tempatnya yang semula menuju tempat yang lebih baik.

Ronalee Resto

Ronalee Resto adalah sebuah resto yang berada pada Jalan Imogiri Timur Km. 8,5 Demangan Kopen, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Resto ini awalnya akan dibangun pabrik roti namun ketika melalui musyawarah akan sangat saying sekali jika tempat yang luas ini hanya dibangun pabrik roti saja. Berawal dari banyaknya para penjual sate klathak yang di sepanjang jalan wonokromo inilah Ronalee Resto membuat sebuah resto dengan olahan daging kambing dan olahan-olahan lainnya. Ronalee Resto juga menerima grup travel yang hendak istirahat di sebuah resto yang memang belum ada rumah makan yang mampu menampung grup-grup travel.

Nama Ronalee Resto sendiri diambil dari nama pabrik roti yaitu Ronalee Bakery yang mana nama Ronalee Resto sudah dikenal lebih dulu oleh masyarakat sekitar sehingga resto ini mengambil nama dari nama pabrik roti jadi Ronalee Resto. Nama Ronalee sendiri adalah nama dari anak pemilik pabrik roti maupun resto ini yaitu Rona sedangkan lee diambil dari istilah bakery. Adapun visi misi dari Ronalee Resto ini adalah Menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi lahan dakwah.
Bukan hanya menu saja didapatkan dari Ronalee Resto baik kepada karyawan maupun kepada pengunjung tetapi juga ada nilai-nilai dakwah yang akan didapatkan dari Ronalee Resto ini yaitu pemilik Ronalee Resto berusaha menerapkan ajaran sunnah baik kepada karyawan maupun pengunjung.

Dakwah kepada karyawan misalnya tidak boleh berkhalwat, wajib memakai hijab bagi wanita, tidak boleh memutar music dan lain sebagainya. Adapun kepada pengunjung Ronalee Resto setiap minggunya mengadakan kajian-kajian sunnah harapannya agar pengunjung dapat mengenal sunnah dari kajian yang diagendakan Ronalee Resto, mengadakan pengobatan nabi yaitu bekam setiap bulannya, dan lain sebagainya.

Perjalanan Hijrah Ummu Zaiddan “Dari Tidak Memakai Hijab Hingga Memakai Niqab”

Berawal dari kegelisahan diri dengan ketidaknyamanan kehidupan masa lalu yang menyadari bahwa wanita itu sebagai sumber fitnah. Diawali dari pertanyaan “Mengapa wanita itu tidak dihargai seolah-olah wanita itu murah sekali?”. Saat itu sudah mulai menyadari mengapa wanita itu seperti ini, ketika berjalan ditengah kerumunan orang di goda.

Mulai dari tidak memakai hijab, memakai hijab yang biasa, hijab panjang sampai dengan saat ini memakai niqob. Proses itu memang tidak semudah membalikkan sebuah tangan. Tentu ketika seorang itu meninggalkan (hijrah) kepada yang dicintai oleh الله dan Rasul-Nya tidak mudah. Yang mana ketika tidak memiliki tekad yang kuat dan tidak dibentengi dengan ketebalan iman maka akan mudah untuk kembali kepada budaya jahiliyyah.

Berawal dari memakai hijab yang biasa pada tahun 2000, ketika bepergian masih sangat banyak yang menggoda yang membuat dirinya tidak nyaman kemudian memutuskan untuk memkai hijab yang panjang atau biasa disebut dengan hijab syar’I (hijab yang sesuai syari’at) namun dengan memakai hijab syar’I masih mendapatkan godaan dari kaum Adam yang masih membuat dirinya tidak nyaman dengan hal tersebut kemudian memutuskan memakai masker untuk menutup wajahnya agar tidak digoda oleh kaum Adam.

Ketika itu Ummu Zaiddan mengengarkan kajian Ustadz Syafiq Reza Basalamah di salah satu stasiun televise mengenai bagaimana seharusnya wanita itu berpakaian & mendapatkan komentar di media social mengenai foto dirinya yang memajang atau mengupload foto di media social. Setelah itu mencari ilmi lebih dalam lagi mengenai niqab atau cadar. Pada akhirnya Ummu Zaiddan mendapatkan jawaban dan dalil mengenai niqab bahwa memakai niqob itu adalah sunnah yang dianjurkan (sunnah muakkad) untuk memuliakan wanita.

Ummu Zaiddan banyak terinspirasi dari wanita-wanita diluar sana yang memakai niqab namun tetap eksis sebagaimana wanita yang lain. Sehingga membuat Ummu Zaiddan semakin semangat untuk memakai niqab karena niqab tidak menghalangi wanita untuk berkiprah selama itu tidak melanggar syari’at.

Istiqamah Memakai Niqab

Tentu proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar agar bisa tetap istiqamah dalam hijrah. Jika tidak ada teman yang mendukung, lingkungan yang memadai maka akan mudah sekali untuk kembali kepada masa lalu. Untuk mengatasi keistiqamahan dalam menjalankan sunnah ada beberapa hal yang dilakukan oleh Ummu Zaiddan yaitu:

 Menguatkan Tauhid

Tauhid adalah pondasi utama seorang muslim dalam menjalankan ajaran agama agar tidak terpengaruh oleh penyimpangan-penyimpangan agama. Sebagaimana firman الله dalam surat Az-Zumar ayat 2-3 yang artinya “Maka sembahlah الله dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan الله lah agama yang bersih (dari syirik)”.

الله memerintahkan kepada manusia untuk memurnikan ketaatan kepada-Nya jika dilakukan maka الله menjamin bahwa akan terhindar dari berbagai macam hal-hal yang membuat ia ingkar kepada الله. Sehingga pertama kali yang harus dilakukan oleh manusia ketika berhijrah agar tetap pada ketaatan kepada الله adalah memperdalam ilmu Tauhid.

Do’a

Do’a adalah hal yang yang mendasar dalam Ibadah. Do’a salah satu senjata bagi orang-orang yang beriman yang mana الله menjanjikan dikabulkannya do’a bagi siapa saja yang berdoa kepada-Nya. Sebagaimana firman الله dalam surat Al-Mu’min ayat 60 yang artinya “Dan Rabbmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian”.

Sehingga ketika sudah berhijrah dari sesuatu yang dibenci oleh الله dan Rasul-Nya maka berdo’a supaya di istiqomahkan dalam menjalankan apa-apa yang dicintai dan diridhoi oleh-Nya.

         Mencari Ilmu mengenai Agama Islam

Setelah berhijrah tentu masih belum mendapatkan ilmu yang cukup untuk menguatkan atau mengistiqomahkan apa yang telah dilakukan maka carilah ilmu-ilmu mengenai apa yang dihijrahkannya dengan mendatangi majlis-majlis ilmu, membaca artikel, mendengarkan kajian dan cara apapun yang mendukung apa yang ingin diistiqamahkannya.

         Meninggalkan atau Hijrah dari Tempat yang Semula

Hal selanjutnya adalah meninggalkan tempat yang semula menuju tempat-tempat yang mendukungnya berhijrah. Meninggalkan tempat semula bertujuan agar dapat melakukan hijrah secara maksimal supaya bisa menampakkan atau mengistiqamahkan apa yang dihijrahkannya. Ketika ditempat semula banyak tempat-tempat kekufuran dan tidak mendukung untuk berhijrah maka berhijrahlah (berpindahlah) dari tempat yang semula tetapi jika tempat yang semula mendukungnya untuk berhijrah maka tetap berada di tempat yang semula tidak mengapa.

Bergaulah dengan yang Sekufu

Setelah berpindah tempat dari tempatnya yang semula maka carilah teman-teman yang mendukungnya untuk berhijrah sehingga membuat dirinya semakin mantap untuk berhijrah dan menambah keimanannya. Ketika masih bergaul dengan teman-teman lamanya sebelum berhijrah maka hal ini dikhawatirkan akan mengganggu proses berhijrah.

Meninggalkan Tempat-Tempat Maksiat

Hal ini memang harus untuk dilakukan ketika berhijrah, tinggalkan semua tempat-tempat yang membuat dirinya kembali kepada masa lalunya. Meninggalkan tempat-tempat maksiat akan sangat membantu seseorang untuk berhijrah menjadi lebih baik.


Penulis: Abdul Aziz "Training Development DSI"
Ditulis di Yogyakarta

Mengenal Sate Klathak Ronalee Resto

Sate Klathak Ronalee Resto

Pelatihan, Sholat Khusuyuk dan Hidup Tanpa Marah




Apakah Anda sering Merasa Sholat tidak bermakna?
sering tergesa-gesa?
Merasa tidak Khusyuk?
Pikiran dan Hati tidak mampu fokus & kosentrasi dengan baik?
Dan Ketika Sholat sering tiba-tiba ingat Anak, Suami, Harta, Pekerjaan, Hutang, dll.
Bahkan Tiba-Tiba saat sholat Anda sering lupa rakaat sholat?
Lalu dimana sholat yang nikmat dan khusyuk itu selama ini…!?

*MARI KITA IKUTI BERSAMA, PELATIHAN SHOLAT KHUSYUK DAN HIDUP TANPA MARAH*
Pembicara :
Abi Fakhri Nabhan Rabbani
(Motivator Asia Tenggara, Dosen Psikologi, Terapis Mental dan Kejiwaan, Konsultan Pendidikan dan Perusahaan, Penulis Buku Top Best Seller Gramedia "Sholat Khusyuk dan Hidup Tanpa Marah")
Rika Mayasari
(Motivator Wanita Termuda Asia Tenggara, Dosen Kepribadian, Penulis Buku, Da'iah, CEO DSI)

Di GOR UNY
Jum'at 30 Desember 2016
Jam 9- Selesai
Cari tiket di: *bit.ly/2gmqDeI* (hanya tersedia 150 tiket). Free order

Penyelenggara:
*Syakaa Organizer*
Dan *Duta Sinergi Inspirasi* Yogykarta


Cuplikan tentang pelatihan: